Perilaku dalam Gerbong MRT, Itukah Cermin Wajah Kita?

Spread the love

BETAPA susahnya saya mendorong budaya baca di kalangan mahasiswa. Sudah berbagai macam cara saya lakukan. Entah memaksa mereka pergi ke perpustakaan atau wajib membaca sebuah buku untuk direview minggu depan. Alih-alih membaca, ke perpustaan saja mahasiswa jaman sekarang sangat jarang. Kalaupun ke perpustakaan biasanya ngobrol, ketemu teman atau sekadar kongkow-kongkow.

Seorang mahasiswa aktivis pernah berseloroh, “Buru-buru membaca buku pak. Membaca koran saja mereka jarang. Mereka lebih sibuk dengan androidnya masing-masing”.

Saya tentu tidak putus asa. Tetapi saya juga harus sadar bahwa masyarakat kita belum berada dalam budaya baca, tetapi masih berada dalam budaya dengar dan toton. Buktinya, yang berkaitan dengan mendengarkan (radio) atau tonton (televisi) sangat digemari. Sementara itu budaya baca hanya indah dalam wacana, meskipun kemanfaatannya jauh lebih baik.

Banyaknya informasi hoaks yang beredar di media sosial juga salah satu sebabnya karena miskinnya budaya baca masyarakat kita. Kita tidak usah saling menuduh. Tuduh saja diri kita sendiri. Kebiasaan yang selama ini sudah dilakukan tentu tidak akan mudah untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman. Kalaupun bisa, tentu dalam jangka panjang dan tidak mudah dilakukan. Sekali lagi karena sudah menjadi budaya yang melekat pada perilaku kita sehari-hari.

MRT

Beberapa waktu lalu, di media sosial heboh soal kereta Mass Rapid Transit (MRT) atau Moda Raya Terpadu baru di Jakarta. Dalam sebuah akun di media sosial tersebar foto seorang ibu-ibu yang bergelantungan di dalam MRT sementara ada teman yang memfotonya. Ada juga seorang ibu juga yang justru menaruh kakinya di kursi sementara banyak kursi kosong. Netizen juga jengkel karena ada sekelompok orang yang makan bareng di lantai dalam stasiun.

Bagi netizen, tindakan itu sungguh tidak baik, jorok, kampungan, ndesa, miskin peradaban atau istilah lain yang menunjukkan kesan buruk. Apalagi yang berkomentar “yang mulia” netizen di media sosial. Bahkan ada akun yang menulis, “Semoga MRT Jakarta bisa mengajukan tuntutan hukum, merusak fasilitas umum. Agar jadi pelajaran buat warga bisa menjaga dan merawat fasilitas umum milik bersama”. Ini tentu usulan bagus untuk memberikan efek jera. Netizen yang biasa menjadi “lambe turah” komentarnya tentu lebih kasar, pedas dan asal ngomong.

Saya ikut bangga karena Jakarta sudah mempunyai MRT. Termasuk saya ikut senang karena banyak warga bisa memanfaatkan moda terpadu itu untuk transportasi. Kebutuhan MRT di Jakarta sangat mendesak dengan predikatnya sebagai kota termacet se-Indonesia. Sebagai moda terpadu pertama dan gratis tentu masyarakat bersuka cita. Maka, menikmati MRT tidak harus ke luar negeri lagi, bukan? Jadilah ada euforia.

MRT adalah produk transportasi modern dan dianggap maju di Indonesia. Karena sebelumnya kita tidak pernah punya, sementara perkembangan peradaban masyarakat juga semakin menggeliat. Tetapi geliatnya masyarakat tentu tidak secepat perkembangan teknologi modern. Bisa jadi, perilaku masyarakat belum begitu maju.

Lihat saja, betapa susahnya masyarakat diminta membuang sampah pada tempatnya. Sudah berbagai macam cara dilakukan; himbauan dan penyediaan tempat sampah yang mencukupi juga. Tetapi kenapa masyarakat masih buang sampah di sembarang tempat? Bahkan tak jarang dilakukan oleh mereka yang tergolong secara materi cukup? Tak sedikit pengendara mobil mewah yang membuang sampah sembarangan pula. Mobil mentereng, tetapi perilaku tidak bisa menyesuaikan.

Cermin Wajah Kita

Maka, MRT memang moda mentereng tetapi perilaku masyarakat juga belum menyesuaikan diri. Orang yang biasa hidup di desa kemudian mencoba MRT tentu akan terkagum-kagum atau bahkan berperilaku aneh. Namanya juga moda baru. Tentu sangat disayangkan jika mereka yang secara pendidikan sudah tinggi namun perilakunya masih memprihatinkan (bergelantungan di dalam MRT), misalnya.

Tetapi apakah kita hanya bisa mengecam mereka? Tentu harus ada himbauan atau kalau perlu ada hukuman. Biarlah netizen pekerjaannya berteriak-teriak agar didengar pejabat berwenang. Apakah masyarakat salah? Bagaimana mereka harus disalahkan jika tingkat peradaban mereka memang masih seperti itu? Perilaku penumpang moda umum sering menjadi cermin peradaban kita saat ini.

Masyarakat boleh jengkel, tetapi hanya jengkel saja dan menumpat-ngumpat di media sosial tentu tidak akan menjadikannya lebih baik. Mengumpat-umpat dengan cara kasar atas perilaku ibu-ibu dalam MRT itu juga tak jauh berbeda peradabannya.

Membangun peradaban itu sebuah proses jangka panjang. Termasuk bagaimana menyesuaikan perilaku masyarakat agar lebih maju dengan moda transportasi modern. Fasilitas fisik tentu mudah diubah sejauh punya dana dan keputusan pejabat yang berwenang. Sementara itu, mengubah peradaban tidak secepat membangun fasilitas fisik. Jangan-jangan perilaku ibu-ibu dalam MRT itu juga mencerminkan peradaban diri kita sendiri? Aslinya kita itu juga tidak berperadaban, hanya merasa berperadaban? Tauk ah gelap.

artikel : news.okezone.com(nurdin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Daftar free memberDiSini